Berita

UIN Datokarama kembangkan konsep integrasi keilmuan

Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Sulawesi Tengah, mengembangan konsep integrasi keilmuan yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah dan nasional.

“Dengan konsep integrasi ilmu UIN Datokarama Palu akan membuka fakultas dan prodi-prodi umum yang dibutuhkan dan relevan dengan pembangunan di daerah Sulawesi Tengah dan nasional,” ucap Rektor UIN Datokarama Palu Prof Dr H sagaf S Pettalongi MPd, di Palu, Jumat.

Dengan beralih status Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu melalui Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2021, yang diundangkan dan mulai berlaku sejak tanggal 12 Juli 2021, maka Sulawesi Tengah memiliki dua perguruan tinggi negeri berstatus universitas yaitu UIN Datokarama Palu dan Universitas Tadulako (Untad) Palu.

“Perubahan IAIN menjadi UIN, bukanlah semata-mata perubahan nama, sekedar gagah-gagahan, atau karena kepentingan komersil dan pencitraan belaka. Tetapi, ada cita-cita dan harapan besar di balik itu,” ungkapnya.

Kata Prof Sagaf sejak masih status sebagai institut, IAIN Palu memiliki batasan kajian pada disiplin ilmu-ilmu sejenis saja. Dengan demikian, IAIN hanya terkonsetrasi pada kajian-kajian keislaman semata, dan tertutup untuk memperluas bidang kajian pada ilmu-ilmu sosial-humaniora lainnya, apalagi ilmu-ilmu eksakta.

Oleh karena itu, untuk menghadirkan generasi muslim yang siap berkompetisi di era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, tak ada jalan lain kecuali dengan beralih dari paradigma dikotomis ke paradigma integratif.

Paradigma keilmuan yang dikembangkan UIN Datokarama mengacu pada visi-misi lembaga, yang menggusung dan mempromosikan Islam wasathiyyah (moderat) yang berpijak pada epistemologi integrasi keilmuan, spritualitas dan kearifan lokal. Secara simbolis, paradigma keilmuan UIN Datokarama Palu, digambarkan dalam bentuk menara keilmuan.

“Strategi awal yang akan dilakukan dalam rangka integrasi keilmuan ini adalah bahwa studi-studi keislaman (Islamic studies) dalam setiap topik kajiannya harus didukung atau dikritisi dengan teori-teori yang relevan dari ilmu-ilmu sosial, humaniora dan atau sains modern. Sebaliknya, studi-studi sosial, humaniora dan atau sains modern harus didukung atau dikritisi dengan teori-teori atau konsep yang relevan dari studi-studi keislaman terutama pada tataran worldview-nya,” katanya.

Kata Prof Sagaf Pettalongi, Di masa yang akan datang generasi muda Sulawesi Tengah tidak mesti harus merantau keluar daerah hanya untuk melanjutkan kuliah di universitas.

Kehadiran dua universitas negeri di provinsi ini tentu akan memberikan lebih banyak alternatif untuk memilih program studi yang diminati.

“Kita justru berharap, di masa-masa mendatang, Sulawesi Tengah dapat menyerap para mahasiswa dari berbagai provinsi, terutama di Kawasan Timur Indonesia, sehingga hal ini secara tidak langsung akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat,” sebutnya.

Sumber : Humas UIN Datokarama Palu