Berita Wakil Rektor 1

Perkuliahaan di IAIN Palu tetap berlangsung secara online

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah menyatakan bahwa perkuliahan untuk strata satu dan dua bahkan strata tiga, tetap berlangsung secara online atau tanpa tatap muka sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus corona jenis baru atau COVID-19.

“Upaya minimalisir dampak dan pencegahan, salah satunya dilakukan dengan membatasi pertemuan langsung atau tatap muka, untuk sementara waktu,” ucap Wakil Rektor IAIN Palu Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga Dr Abidin Djafar di Palu, Kamis.

IAIN Palu, kata Abidin melalui kebijakan Kementerian Agama dan Rektor IAIN Prof Dr H Sagaf S Pettalongi MPd, maka seluruh kegiatan dilaksanakan berbasis online di tengah adanya wabah pandemi virus corona jenis baru atau COVID-19.

Dengan begitu, sebut dia, seluruh kegiatan akademik termasuk pekuliahaan tetap berlangsung berbasis online.

Berkaitan dengan itu, Dosen IAIN Palu Dr H Muhtadin Mustafa mengemukakan, perlu adanya juknis, modul atau panduan dalam kegiatan akademik khususnya proses perkuliahaan.

Juknis itu, mengatur secara khusus mengenai pelaksanaan perkuliahaan secara online atau media sosial selama adanya wabah pandemi COVID-19. Termasuk di dalamnya memuat tentang kewenangan dosen.

“Salah satu satu contoh misalnya, mahasiswa yang tidak ikut perkuliahaan misalnya, itu tidak dapat diberikan sanksi,” sebutnya.

Sementara bila diberikan sanksi dengan nilai yang rendah, maka secara otomatis bertentangan dengan kebijakan pimpinan IAIN Palu.

Muhtadin menguraikan, selama proses perkuliahan berbasis daring atau dengan media sosial, efektif atau tidaknya hal itu tergantung pada dosen dan mahasiswa masing-masing.

Ia mengakui bahwa, perkuliahaan secara daring atau media sosial, semakin mahasiswa dapat mengikuti secara serius, namun sebagiannya tidak.

“Bahkan ada beberapa kendala yang dihadapi dalam proses perkuliahaan ini, misalnya soal perangkat yang digunakan. Tidak semua mahasiswa menggunakan komputer/leptop, ini juga menjadi kendala,” ujarnya.

Selain itu, jaringan telekomunikasi dan data internet juga memberikan pengaruh terhadap proses perkuliahaan itu.

“Hal-hal ini yang membuat pembelajaran terkadang kurang efektif berlangsung,” kata dia.

Dampak dari itu, urai dia, sebagian mahasiswa dapat memahami dengan materi yang diajarkan, sebagiannya tidak. Bahkan, ada yang aktif dalam proses itu dan ada yang tidak.

Olehnya, kata dia, mutu yang diharapkan dari perkulihaan ini, lebih bergantung pada kreatifitas dosen dalam pembelajaran online atau menggunakan media sosial.

Muhtadin Dg Mustafa mengakui bahwa selama pertengahan Maret atau sejak mulai berlakunya pembelajaran daring, ia telah menuntaskan perkuliahaan di tiga kelas yang menjadi tanggung jawabnya.

“Tiga mata kuliah sudah selesai dan sudah bertatap muka lewat media sosial kurang lebih sudah enam kali,” urainya.