Berita

History, “Sebelum Dan Sesudah Terjadinya Bencana Alam”

Nama : Anisah
Kelas : XI Keperawatan
Sekolah : SMK 2 Banawa

Perkenalkan namaku “Annisa” saya lahir didesa Boneoge , Kabupaten Donggala Kecamatan Banawa , Pada tanggal 08 April 2005 , saya anal terakhir dari Tujuh Bersaudara termasuk anak prempuan satu satunya.

Ibuku bernama Darlina dan Ayahku bernama Asri.Pekerjaan Ibuku tidak lain adalah pengurus Urusan Rumah Tangga (URT) , dan Ayahku pekerja kapal para nelayan (KULI).

Sebelum terjadinya Gempa Tsunami yang melanda Palu,Sigi,Donggala (PASIGALA) 28 September 2018,sekolahku terpilih oleh lembaga PRB (Pengurangan Resiko Bencana) Indonesia,dibentuknya anggota TIM SIAGA BENCANA ini untuk mewakili anak anak Sulawesi Tengah dalam diberikanya pelatihan khusus pencegahan bencana.Pada saat itu saya duduk dibangku kelas delapan seharusnya saya belajar karena ada ulangan,tetapi hal itu menjadi tantangan bagi saya sendiri karena saya merasa kegiatan ini sangat penting terlaksanakan dan banyak pula manfaatnya untuk saya sendiri maupun masyarakat lainnya.

Maka dari itu saya bangga berpartisipasi dalam kegiatan pengurangan resiko bencana ini. Dari kegiatan ini saya dan kawan kawan diajarkan diantarannya bagaimana menjadi tim siaga yang sigap pada saat terjadi bencana dilingkungan terutamanya dilingkungan sekolah,cara melakukan pertolongan pertama (P3K) terhadap korban bencana,mengetahui tanda-tanda besar seperti tsunami,diajarkan tatacara bagaimana saat kita menghadapi bencana seperti gempa bumi diantaranya berlindung dibawah meja dengan kondisi memegang kaki-kaki meja dan posisi berlutut,melindungi kepala dengan benda yang tidak membahayakan diri kita seperti tas/ransel,berdiri di sudut tiang dinding dan menghindari kaca.

Poin-poin penting pada saat terjadi bencana yaitu, kita mesti tetap tenang seperti, tidak boleh langsung panik,tidak saling mendorong, tidak langsung lari, hal-hal itu mesti kita lakukan agar pada saat kita ingin berlindung,kita dapat menyelamatkan diri kita dengan baik,dan kita dapat menemukan tempat posisi aman untuk perlindungan tanpa adanya luka atau cedera ringan.

Lembaga PRB juga melatih kita para Tim Siaga,tentang apa yang harus dilakukan pada saat kita berada di dalam ruangan maupun di luar ruangan dalam keadaan gempa sudah mulai reda.

Untuk yang berada di dalam ruangan, yaitu dengan keluar dalam keaadan teratur dan tetap memegang benda yang dapat melindungi kepala yaitu tas/ransel, dan kemudian mengikuti arah evakuasi menuju tempat titik kumpul(lapangan).

Dan untuk yang berada diluar ruangan, yaitu juga tetap melindungi kepala agar tidak tertimpa bangunan yang tinggi,dan juga mengikuti arah evakuasi menuju tempat titik kumpul(lapangan).

Setelah berjalannya pelatihan pengurangan bencana selama beberapa bulan, Lembaga PRB bekerja sama dengan pihak BNN(Badan Narkotika Nasional) untuk melakukan simulasi terjadi gempa yang berdampak tsunami di sekolahku.

Tetapi kami belum sempat melakukan simulai,dan tanpa disangka-sangka nasib berkata lain, ALLAH SWT telah menakdirkan bencana besar ini terjadi dengan nyata, sehingga membuat kejadian ini menjadi hal yang paling berkesan bagi hidup saya,yang tidak akan pernah saya lupakan, karena begitu dasyatnya gempa tsunami ini menghantam tanah sulawesi tengah.

Jum’at 28 september 2018, saya menjadi salah satu saksi bisu terjadinya gempa yang berkekuatan 7,4 sr dan disertai gelombang tsunami yang berketinggian kurang lebih 4,5 meter,dan juga ternyata terjadi likuifaksi yang membuat kerusakan pada beberapa daerah pemukiman di palu,sigi, dan donggala.

Sore itu pada saat mau melaksanakan shalat maghrib,pukul 18.02 GUBRAKKKKK…TAKKKKKK seketika terjadi bersamaan padamnya listrik,muncul suara bergemuruh,tanah berguncang sangat kuat,saya yang berada dikamar saat itu sangat ketakutan panik dan langsung bertakbir! ALLAHUAKBAR!!! LAILAHAILLALLAH!! Saat itu saya bingung apa yang terjadi,saya mencoba untuk menyelamatkan diri dan bergegas untuk keluar dari rumah untuk mencari keluarga saya,karena pada saat itu dirumah hanya saya seorang diri dan yang lainnya berada dipantai melihat ayah saya membuat kapal.

Dan akhirnya saya bertemu keluarga saya dari banyaknya orang yang berkerumun dijalanan dan segera berlarian kedataran yang lebih tinggi untuk menyelematkan diri dari Tsunami yang berketinggian 4/5 meter,dan ternyata ayah dan salah satu kakak laki laki saya masih di tanggul tepi pantai menyaksikan tsunami yang mau melelulantangkan desa boneoge tersebut!,tetapi demikian tsunami tersebut terbelah dua ke arah selatan dan utara semua orang heran melihat kejadian tersebut dan bertanya tanya “mengapa ombat tersebut dapat terbelah dua?,apakah kita masih diberi satu kesempatan lagi untuk bisa hidup dan beribadah se taat mungkin!!”

Malam pertama mengungsi kami masih tidak ber alaskan tidur apa apa,dan sebenarnya disitu banyak masyarakat yang sulit tidur karena adanya gempa susulan secara terus menerus.

Keesokan harinya cuaca sangatlah panas,kami belum mendapatkan bantuan apa-apa dari pemerintah,bahkan bantuan tenda pun tidak ada,kami hanya mempunyai tenda terpal panjang,saya mencoba memberi tahu Ayah
untuk mengajak sepupu sepupu yang ada di pengungsian mengambil bambu dan membuat tenda huni manual dari terpal tersebut.

Bantuan makanan yaitu telur dan mie instan,selama mengungsi saya dan seluruh masyarakat disitu hanya terus menerus menkonsumsi mie instan dan telur saja,air di pengungsian pun sangat sulit didapatkan,kios-kios penjual tidak ada yang buka sehingga membuat kami merasa sangat sulit dalam keseharian.

2 bulan kemudian saya mendapat kabar bahwa sekolah saya MTs Alkhairaat Maleni,sudah mulai aktif lagi untuk melakukan kegiatan belajar mengajar,dan alhamdulillah bangunan-bangunan di sekolah saya tidak ada yang mengalami kerusakan yang parah,hanya saja ruangannya cuman retak retak biasa.

Ada pula pelajaran yang dapat kita ambil, yaitu kita harus lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan selalu menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya,yang paling utama kita selalu bersyukur, shalat 5 waktu,sering membaca al-qur’an,dan melalukan amal-amal kebaikan lainnya,agar selalu mendapat ridho dari Allah swt.

Demikianlah kisah dari pengalamanku menjadi Tim siaga yang baik bagi keluarga dan masyarakat sekitar lainnya,semoga teman-teman dapat terinpirasi dari cerita saya.

Sumber : Humas dan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Datokarama Palu