REKTOR : PERGURUAN TINGGI MELAWAN RADIKALISME TIDAK DITUJUKAN PADA AGAMA

Oleh : Muhammad Hajiji

 

Palu - Rektor IAIN Palu Prof Dr H Zainal Abidin MAg mengatakan aksi kebangsaan perguruan tinggi (PT) melawan radikalisme yang digelar serentak pada Sabtu (28/10) di setiap provinsi, tidak ditujukan kepada salah satu agama tertentu.

Panitia pengarah nasional aksi kebangsaan perguruan tinggi melawan radikalisme itu mengatakan aksi kebangsaan oleh perguruan tinggi se Indonesia itu melibatkan 4,5 juta mahasiswa, ditujukan kepada individu atau kelompok yang ingin mengganti Pancasila sebagai ideologi negara.

"Ini bukan aksi untuk melawan agama-agama, aksi ini juga bukan untuk melawan salah satu agama. Perguruan tinggi melawan radikalisme tidak berhadapan dengan agama, tetapi berhadapan dengan kelompok yang ingin mengganti Pancasila," ungkap Zainal, di Palu, Jumat.

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu ini mengatakan aksi tersebut merupakan komitmen perguruan tinggi melawan kelompok-kelompok yang menyebarkan faham dan aliran radikalisme, ingin mengganti Pancasila sebagai ideologi negara.

"Ini aksi kebangsaan untuk membela Pancasila, membela negara, membela NKRI dan menjunjung tinggi kebhinekaan. Karena itu, siapa-pun dia, dari golongan apapun dia, serta dari agama apapun-pun dia yang ingin mengganti Pancasila sebagai ideologi negara, maka itu yang dihadapi oleh perguruan tinggi," tegasnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Palu ini menerangkan perguruan tinggi berhadapan dan melawan pihak-pihak atau kelompok-kelompok intoleransi yang tidak menjunjung tinggi pancasila, kebhinekaan dan NKRI.

Termasuk, sebut dia organisasi politik, organisasi keagamaan, aliran kepercayaan yang ingin mengganti Pancasila, maka akan berhadapan dengan perguruan tinggi.

Ia menjelaskan perlawanan terhadap gerakan radikalisme dan intoleransi, adalah sutau keharusan yang tidak bertentangan dengan ajaran agama.

"Kalau dalam Islam ada fatwa MUI tahun 2009 di Padang Panjang, menyebutkan bahwa jika ada seseorang atau sekelompok orang yang ingin mengganti Pancasila sebagai ideologi negara (disebut bughat), harus di lawan," jelasnya.

Lebih lanjut dia menyatakan negara juga terlibat dan turun tangan dalam upaya menghentikan aksi kelompok radikalisme dan intoleransi, yang ingin mengganti Pancasila sebagai ideologi negara.