Rektor IAIN : Washatiyah bendung millenial Islam dari radikalisme

Rektor IAIN Palu Prof Dr H Sagaf S Pettalongi MPd menjadi salah satu pembicara dalam Workshop Bina Moderasi Islam Bagi Generasi Millenial yang di selenggarakan oleh Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Tengah, di Palu.

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah, Prof Dr Sagaf S Pettalongi MPd mengemukakan konsep Islam Washatiyah menjadi salah satu solusi yang harus di kedepankan untuk membendung millenial khususnya generasi mudah Islam, terhindar dari faham radikalisme, ekstrimisme.

"Pemkiran Islam Washatiyah harus di kenalkan kepada generasi mudah, atau yang disebut generasi millenial, generasi yang produktif menjadi harapan masa depan bangsa," ucap Prof Sagaf Pettalongi, di Palu, Jumat.

Prof Sagaf Pettalongi menyebut radikalisme merupakan kejahatan luar biasa yang di lakukan oleh seseorang atau sekelompok orang. Kejahatan ini, tidak tumbuh atau lahir dengan sendiri, melainkan ada proses pengkaderan atau semacam proses penanaman faham radikal.

Faham ini cenderung menyasar generasi mudah, generasi millenial. Kementerian Agama menyebut radikalisme sebagai salah satu faham yang ekstrem yang di dunia pendidikan justru tumbuh di sekolah umum dengan salah satu pemicunya  waktu ajar pendidikan agama yang sedikit sehingga pemahaman terhadap agama menjadi tidak optimal dan menyeluruh.

Porsi pendidikan agama di sekolah nonagama umumnya hanya dua jam setiap pekan sehingga materi keagamaan menjadi kurang. Badan Intelijen Negara (BIN), mengungkapkan, sekitar 39 persen mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi telah terpapar paham radikal, pada tahun 2018. Hal itu berdasarkan penelitian BIN yang dilakukan pada 2017 lalu.

Data BIN menyebut 15 provinsi di Indonesia menjadi perhatian pergerakan radikalisme itu. Dari survei yang dilakukan diperoleh data 24 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam.

"Karena itu penting, dan harus di kembangkan lebih mengenai upaya penanaman pemikiran Islam wahatiyah terhadap generasi mudah Islam,  yang melibatkan seluruh komponen pemerintah, masyarakat, organisasi keagamaan dan tokoh-tokoh agama," sebutnya.

Ia menguraikan, Islam Wasathiyah dalam bahasa Al-Qur’an adalah kelompok yang berada di pertengahan, tidak memihak pada salah satu kelompok tertentu, menerapkan suatu cara pandang yang adil dan objektif.

Islam Washatiyah memiliki tiga nilai yaitu, sebagai penengah, damai dan mendamaikan. Kemudian,  adil dan tidak memihak. Selanjutnya,  terbuka bijak kepada sesama.

Islam wasathiyah adalah model dakwah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam menyebarkan nilai Islam yang Rahmatan lil ‘alamin. Dalam Islam sesuai dengan yang di ajarkan nabi bahwa, tidak ada paksaan dalam beragama, menghormati perbedaan suku, agama, RAS, budaya, dan golongan.

Kata Sagaf Pettalongi, Nabi juga mengajarkan menempatkan Seseorang Sesuai dengan kapasitasnya, bukan karena kekeluargaan atau suku. Lanjut dia, konsep ini perlu di tanamkan atau di ajarkan kepada millenial, mengingat faham gerakan radikal marak menyebarkan faham-nya lewat media sosial, yang sangat rentan bagi generasi mudah untuk terpapar.

Rektor IAIN Palu Prof Dr H Sagaf S Pettalongi MPd menjadi salah satu pembicara dalam Workshop Bina Moderasi Islam Bagi Generasi Millenial yang di selenggarakan oleh Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Tengah, di Palu.

Indonesian