Menakar upaya IAIN Palu bentuk intelektual muslim moderat

Mahasiswa baru IAIN Palu mengikuti pembukaan kegiatan pembinaan oleh Mahad Aljamiah terkait upaya pembentukan intelektual muslim moderat, di Kompleks Rusunawa IAIN Palu, Rabu 19/6.

Menjadikan para alumni jenjang strata satu, dua dan tiga yang berkapasitas sesuai disiplin ilmu pengetahuan, berketerampilan, memiliki pemahaman keagamaan dengan keunggulan moderasi Islam, serta mampu memberikan solusi kepada masyarakat di tengah masalah keagamaan, sosial, ekonomi dan politik, menjadi salah satu cita-cita dan tujuan dari upaya pemaksimalan kegiatan akademik oleh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah.

Tidak mudah bagi IAIN Palu mencapai hal itu, berbagai tantangan di hadapi oleh perguruan tinggi Islam negeri itu yang saat ini di pimpin oleh Rektor Prof Dr H Saggaf S Pettalongi MPd.

Ada dan menyebarnya faham radikal turut serta menambah tantangan tersendiri bagi IAIN Palu dalam menjaga marwah Kementerian Agama RI, menjunjung tinggi Pancasila dan bhineka tunggal ika.

Kementerian Agama menyebut radikalisme sebagai salah satu faham yang ekstrime, di dunia pendidikan justru tumbuh di sekolah umum dengan salah satu pemicunya waktu ajar pendidikan agama yang sedikit sehingga pemahaman terhadap agama menjadi tidak optimal dan menyeluruh. Porsi pendidikan agama di sekolah nonagama umumnya hanya dua jam setiap pekan sehingga materi keagamaan menjadi kurang.

Badan Intelijen Negara (BIN), mengungkapkan, sekitar 39 persen mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi telah terpapar paham radikal, pada tahun 2018. Hal itu berdasarkan penelitian BIN yang dilakukan pada 2017 lalu.

Kepala BIN yang saat itu di jabat oleh Budi Gunawan, mengemukakan 15 provinsi di Indonesia menjadi perhatian pergerakan radikalisme itu. Dari survei yang dilakukan diperoleh data 24 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam.

Inilah yang kemudian menjadi salah satu latar belakang Rektor Prof Dr H Sagaf S Pettalongi menyusun strategi, program kegiatan akademik selain untuk menunjang upaya pencerdasan mahasiswa, juga agar mahasiswa-nya tidak terpapar faham radikal.

"Kita menginginkan agar mahasiswa dapat memahami Islam, seperti Islam yang di ajarkan dan di contohkan oleh Rasulullah SAW. Yaitu, Islam Rahmatan Lilalaamin atau Islam Wasathiyah, atau dalam bahasa Indonesia di sebut Islam moderat," ucap Prof Sagaf Pettalongi, di Palu, Rabu.

Keinginan Rektor Prof Sagaf Pettalongi menjadikan mahasiswanya sebagai kaum intelektual muslim yang moderat, dengan konsep Islam Wasathiyah merujuk pada Quran Surah Albaqarah Ayat 143.

Meski tidak ada mahasiswanya yang terpapar faham radikal, faham ekstrimisme. Namun kegiatan akademik yang bermuara pada pembentukan wawasan moderasi Islam dan Islam Rahmatan Lilalaamin terus di tonjolkan.

  • Strategi Pengkaderan

Mahasiswa baru tahun 2019 menjadi sasaran dari pembentukan intelektual muslim moderat. Hal ini berangkat dari pernyataan Kementerian Agama menyebut radikalisme sebagai salah satu faham yang ekstrime, di dunia pendidikan justru tumbuh di sekolah umum.

Saat ini, ribuan calon mahasiswa dari berbagai dari di Sulawesi Tengah jebolan Madrasyah Aliyah dan sekolah umum telah mendaftar-kan dirinya untuk kuliah di IAIN Palu. Pendaftaran itu di lakukan oleh calon mahasiswa lewat jalur Seleksi Prestasi Akademik Nasional (SPAN), UMPTKIN dan mandiri.

IAIN Palu menargetkan menerima 2.000 mahasiswa baru pada tahun 2019 ini, dengan mengandalkan tiga jalur pendaftaran tersebut. Jalur pendaftara Mandiri untuk calon mahasiswa masih di buka, sementara SPAN dan UMPTKIN telah di tutup.

Sebagai perguruan tinggi Islam negeri yang turut serta bertanggung jawab terhadap pembinaan umat, membendung faham radikalisme. Maka tiga model pengkaderan di kedepankan oleh IAIN Palu.

Pertama, menjadikan Mahad Aljamiah yang bertempat di Rusunawa IAIN Palu di Kelurahan Tipo Kota Palu, sebagai tempat pengkaderan pembentukan intelektual muslim moderat. Mahasiswa baru dari tiga jalur pendaftaran itu, akan mendapat pembimbingan dan pembinaan, wawasan kebangsaan, Islam Moderat dengan konsep Islam Wasathiyah, Baca Tulis Alquran, dan pembinaan kebahasaan Inggris dan Arab.

"Setiap calon mahasiswa yang di nyatakan lulus dari setiap jalur pendaftaran dan telah membayar biaya uang kuliah tinggal berhak dan wajib mengikuti seluruh kegiatan pembinaan di Mahad Aljamiah, di Rusunawa IAIN Palu," kata Prof Sagaf Pettalongi.

Selain kewajiban, kata Prof Sagaf Pettalongi, calon mahasiswa yang telah membayar UKT semester pertama, berhak untuk mengikuti kegiatan di Mahad Aljamiah, karena dari setiap biaya UKT ada dana Rp50 ribu/mahasiswa yang di gunakan untuk kegiatan pembinaan, peningkatan kreatifitas mahasiswa.

"Saya berharap agar calon mahasiswa yang telah membayar UKT mengikuti dengan baik kegiatan di Mahad Aljamiah," sebut dia.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Palu Dr Abidin Djafar mengemukakan, IAIN Palu melibatkan guru-guru dari madrasyah aliyah, sekolah umum dan pondok pesantren dalam pembinaan mahasiswa di Mahad Aljamiah.

"Model pembinaan di Mahad Aljamiah merupakan pintu masuk pertama dalam proses pembentukan intelektual muslim yang moderat. Di tahapan pertama ini, belum melibatkan dosen, melainkan melibatkan para guru dan tenaga pengajar dari pondok pesantren," sebut dia.

Langkah untuk melibatkan para guru dari madrasyah dan sekolah umum serta pondok pesantren, sekaligus menjadi strategi untuk upaya peningkatan jumlah mahasiswa baru pada tahun 2020. Karena, para guru dan tenaga pengajar dari pondok pesantre, akan mengenal IAIN Palu sekaligus menyosialisasikan IAIN Palu kepada peserta didiknya baik di madrasyah, sekolah umum atau pondok pesantren.

Setelah mengikuti tahapan pertama di Mahad Aljamiah, mahasiswa baru akan mengikuti model pembinaan dan pengkaderan pintu kedua yakni matrikulasi. Di tahapan kedua, mahasiswa baru akan di berhadapan dengan pembinaan dengan materi Islam Wasathiyah, teknik belajar di perguruan tinggi, kode etik mahasiswa dan wawasan kebangsaan, serta pembinaan bahasa asing Arab dan Inggris.Tenaga pengajar yang terlibat dalam tahapan kedua, keseluruhannya ialah dosen di internal IAIN Palu.

Selanjutnya, tahapan pembinaan ke-tiga, yakni Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) yang terdiri dari pra-PBAK dan PBAK. Mahasiswa baru juga akan di isin dengan materi Islam Moderat dengan konsep Islam Wasathiyah, wawasan kebangsaan, penanaman nilai-nilai pancasila, bhinike tunggal ika, serta pengenalan budaya akademik kampus.

"Di tahapan ke tiga ini, melibatkan mahasiswa dan dosen. Disini selain pembinaan, juga akan ada pengenalan organisasi internal kampus serta pengenalan budaya akademik lainnya," sebut Dr Abidin Djafar.

Tidak berhenti di tiga tahapan itu, sebut Abidin, setelah PBAK atau ormik, mahasiswa akan mengikuti proses perkuliahan yang mata kuliah dasar selama tiga semester juga memberi penguatan terhadap Islam moderat dan penanaman nilai-nilai kebangsaan, pancasila.

"Mata kuliah ini merupakan tindak lanjut dari visi rektor yang salah satunya yakni Islam moderat," ujar Abidin.

Rektor IAIN Palu Prof Dr H Sagaf S Pettalongi MPd berdiri di depan Rusunawa IAIN Palu memberikan keterangan kepada wartawan terkait upaya pembentukan intelektual muslim moderat, di Kompleks Rusunawa IAIN Palu, di Tipo Kecamatan Palu Barat, Rabu.

  • Ala Santri

Hari ini, 65 calon mahasiswa yang telah membayar UKT dari Jalur SPAN mulai mengikuti pembinaan di Mahad Aljamiah. Rektor IAIN Palu Prof Dr H Sagaf S Pettalongi MPd membuka secara resmi kegiatan pembinaan itu.

Rusunawa IAIN Palu yang menjadi sebagai tempat Unit Pelaksana Teknis Mahad Aljamiah, di bangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), merupakan pesantrennya PTKIN IAIN Palu di Kelurahan Tipo Kecamatan Ulujadi, Palu Barat.

Sebelum masuk ke tahapan ke dua, matrikulasi, mahasiswa akan mengikuti pembinaan di pesantrennya IAIN Palu kurang lebih satu bulan penuh.

"Untuk tahap pertama ada 65 mahasiswa, selanjutnya di tahap ke dua akan ada sekitar 50 mahasiswa. Ini tidak hanya untuk mahasiswa jalur pendaftaran SPAN, tetapi mahasiswa jalur pendaftaran UMPTKIN dan Mandiri juga akan di bina di tempat ini," sebut Kepala Bagian Akademik IAIN Palu H Abdul Wahab MPd, di Palu, Rabu.

Rusunawa IAIN Palu sebagai pesantren, maka metode ala pesantren sepenuhnya di terapkan dalam pembinaan kepada mahasiswa baru dalam rangka pembentukan intelektual muslim.

"Mahasiswa wajib menggunakan sarung dan kopiah dalam mengikuti materi yang berlangsung di mushollah atau di kelas bagi yang laki-laki, wajib menutup aurat bagi semua peserta, dan wajib sholat," ujar Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr Abidin.

  • Beasiswa Hafiz Quran

Mahasiswa baru mendapat kabar gembira dari pimpinan IAIN Palu, Prof Dr H Sagaf S Pettalongi MPd mengemukakan pihaknya telah menyusun anggaran untuk memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang mampu menghafal quran (hafiz).

"Bagi mahasiswa yang menghafal 30 Juz, maka seluruh biaya SPP/UKT di tanggung oleh IAIN Palu, atau IAIN Palu membebaskan mahasiswa tersebut dari kewajiban membayar SPP selama delapan semester (strata satu)," kata Prof Sagaf Pettalongi MPd.

Ia mengemukakan, pihaknya telah mengalokasikan sejumlah anggaran dan pemetaan terkait beasiswa hafiz quran, mulai dari menghafal 30 Juz, 20 Juz dan 10 Juz quran.

"Ada pembagiannya, yang jelas setiap mahasiswa yang menghafal 30 Juz, 20 Juz dan 10 Juz di berikan beasiswa. Untuk yang 30 Juz, bebas dari biaya SPP/UKT," tegas dia.

Hal untuk memberikan motivasi dan semangat kepada mahasiswa agar membaca, menulis dan menghafal alquran. Namun demikian, hal itu bukan sebagai larangan bahwa mahasiswa tidak boleh belajar ilmu umum dan tekhnologi.

"Silahkan belajar tekhnologi, ilmu pengetahuan umu, dan perkembangan ilmu pengetahuan lainnya. Namun, jangan lupa membaca dan menghafal alquran," sebut dia.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Keuangan IAIN Palu Dr Kamaruddin membenarkan bahwa IAIN Palu tengah mengalokasikan anggaran untuk beasiswa hafiz quran, bagi mahasiswa.

Ia menegaskan, tidak hanya mahasiswa baru, tetpai mahasiswa yang sedang menjalani perkuliahan, juga dapat menerima beasiswa tersebut. Dengan syarat harus menghafal quran, sesuai kategori 30 Juz, 20 Juz atau 10 Juz.

Cara mengenalkan alquran kepada mahasiswa dengan kebijakan tersebut, merupakan salah satu upaya IAIN Palu yang merupakan tindak lanjut dari visi Islam moderat, membetuk intelektual moslim yang moderat yakni harus menghafal atau mengetahui Alquran.

Sumber : Bagian Humas IAIN Palu

Indonesian