Kementerian Agama : PTKI Harus Berkontribusi Dalam Perubahan Di Era Disrupsi

Kementerian Agama Republik Indonesia menyatakan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) harus terlibat dan berperan untuk berkontribusi dalam perubahan era disrupsi.

"Era disrupsi menjadi salah satu tantangan yang dihadapi oleh perguruan tinggi keagamaan Islam di tanah air," ucap Kepala Pengembangan Akademik dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Mamat S Burhanuddin, di Palu, Rabu.

Pernyataan itu disampaikan Mamat Burhanuddin dalam acara rapat senat terbuka luar biasa dalam rangka wisuda sarjana dan pascasarjana ke-VI Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah, Rabu. Mamat Burhanuddin menyebut PTKI harus mampu melihat trend yang sedang terjadi, dan harus berkontribusi dalam perubahan. Tidak hanya sebatas terlibat, kata dia, PTKI harus memiliki kajian yang diikutkan dengan riset-riset terkait dengan perubahan di era disrupsi.

Namun, dalam keterlibatan itu, sebut Maman, perguruan tinggi keagamaan harus mengacu dan memegang teguh enam prinsip dalam  menyikapi perubahan di era disrupsi.

Enam prinsip itu, pertama pembentukan intelektual. Yaitu, orientasi perguruan tinggi keagamaan ialah pengembangan keilmuan, ilmu agama, rasional, filosofi, ilmiah dan kritis. Kedua, meningkatkan kemampuan betindak yang terarah. PTKI dalam pengembangannya dan mengembangkan kajian Islam harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungan.

"Dalam mengembangkan kajian Islam, dan keilmuan lainnya, serta dalam upaya pengembangan PTKI harus terlibat dalam pemeliharaan lingkungan, sosial budaya, dan lingkungan lainnya," sebut Maman.

Ia menerangkan, prinsip ketiga yakni keterbukaan dalam pengembangan kajian Islam. PTKI harus terbuka dalam mengembangkan studi ke-Islaman.

"PTKI tidak boleh mengembangkan kajian ke-Islaman yang tertutup dan sempit. Karena itu, seluruh mazhab dan aliran kepercayaan dan theologi harus diajarkan secara terbuka," ujar dia.

Keempat, prinsip ke-Indonesiaan. Kata Mamat, PTKI menjadi salah satu komponen negara yang telah sepakat menjaga keutuhan bangsa Indonesia.

"Kita melangka bersama menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Karena itu, tidak boleh ada PTKI yang ingin keluar dari Indonesia," katanya.

Kelima, yaitu PTKI tidak boleh tertinggal, harus ikut dalam isu-isu dan wacana yang berkembang saat ini. Keenam yaitu tentang prinsip pembentukan moral dan ke-salehan.

"Mulai dari pimpinan sampai dengan mahasiswa harus mengedepankan moral, etika," urai Maman.

Maman menjelaskan, prinsip tersebut tidak hanya untuk menghadapi era industrialisasi dan disrupsi. Melainkan, telah termasuk mewujudkan cita-cita Kementerian Agama yang harus ditindaklanjuti oleh PTKI yakni mewujudkan Indonesia sebagai destinasi kajian Islam.

"Kita ingin setiap warga dunia yang ingin belajar tentang Islam dan mengembangkan studi Islam, mereka harus datang ke Indonesia," jelasnya.

Indonesian