AICIS PALU BAHAS RESOLUSI KONFLIK CEGAH RADIKALISME

Palu, 17/9 (Humas AICIS) - Kegiatan konferensi internasional bertajuk "Annual International Confeence on Islamic Studies" (AICIS) ke 18 di Kota Palu, Sulawesi Tengah, salah satunya membahas resolusi konflik sebagai solusi perdamaian mencegah radikalisme.

"Iya, jadi salah satu topik yang akan di kaji dan dibahas dalam AICUS yaitu peran perguruan tinggi keagamaan Islam dalam penanggungalan radikalisme," ucap Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu Prof Dr H Sagaf S Pettalongi, usai membuka expo pendidikan, di IAIN Palu, Senin.

Lewat kesempatan itu, sebut Sagaf, sebab munculnya gerakan radikalisme dan upaya penanggulangan akan dibahas, secara universal dan hingga faham dan gerakan itu muncul didaerah.

Sulawesi Tengah, kata dia, pernah ada faham-faham seperti, khususnya di Kabupaten Poso.

"Faham seperti itu tidak bisa kita katakan suda selesai, karena ada jaringan globalnya. Olehnya, panitia mengangkat salah satu tema mengenai hal itu," kata Sagaf.

Atas hal itu, urai dia, peran pendidikan tinggi keagamaan Islam dalam resolusi konflik yakni, memberikan solusi kepada daerah-daerah yang pernah mengalami konflik sosial keagamaan, untuk merekonstruksi kembali kehidupan sehingga masyaraktnya muncul seperti semua serta timbul kepercayaan dalam diri.

Ia mengemukakan dalam konteks ini, panitia melibatkan beberapa tokoh yang berkompoten untuk menyampaikan materi yaitu Ketua Umum Pengurus Besar Habib Ali Bin Muhammad Aljufri, pendeta dari Dewan Gereja-Gereja di Indonesia, akademisi IAIN Palu, UIN Jogja dan UIN Palembang pada on stage discussion II.

AICIS dilaksanakan di Kota Palu pada 17 September 2018, mengusung tema, Islam in a globalizing word (text, knowledge anda practice).

"Tema ini dengan sendiri akan membahas bagian-bagian studi Islam yang ada di tiap daerah, yang kemudian di kaji dengan perkembangan Islam secara global yang sedang berjalan," ujarnya.

Peran-peran ini, kata dia, yaitu bagaimana studi pendidikan Islam itu bagaimana berkontribusi terhadap pembangunan daerah pada aspek pembangunan manusia, perdamaian dalam bingkai kemajemukan.

"Peran-peran ini minimal bisa memberikan konsep pemikiran dalam upaya membangun perdamaian  atau Islam moderat," sebutnya.

Kementerian Agama mengharapkan AICIS ke 18 di Palu dapat memublikasikan pandangan dan pemahaman keagamaan Islam di Asia Tenggara dengan beragam perspektif.

Maksud dari publikasi ragam perspektif itu yakni pemateri tidak hanya datang dari kalangan akademisi saja, akan tetapi dapat berasal dari budayawan, seniman atau bahkan dari pengusaha..

Kemudian, AICIS juga harus mampu mendorong lahirnya paradigma atau epistemologi alternatif dalam kajian Islam

Indonesian