100 mahasiswa IAIN dibekali kecerdasan berbahasa Arab-Inggris

Terdapat 100 mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah dari berbagai program studi dan fakultas, dibekali dengan kecerdasan berbahasa asing Arab dan Inggris.

"100 mahasiswa ini terdiri orang 50 yang mengikuti Bahasa Arab dan 50 untuk Bahasa Inggris," ucap Ketua UPT Bahasa Dr Abidin Djafar, di Palu, Jumat.

Ratusan mahasiswa itu akan melewati proses pembinaan kebahasaan asing Arab dan Inggris melalui program 'pemantapan kursus Bahasa Inggris dan Arab bagi mahasiswa IAIN Palu', yang berlangsung di perguruan tinggi tersebut.

Dalam proses pembinaan itu, UPT Bahasa IAIN Palu melibatkan 16 tenaga pengajar/dosen ahli Bahasa Arab dan Inggris, yang akan mengajar dan membimbing langsung 100 mahasiswa selama delapan pertemuan.

"Iya, jadi proses ini akan berlangsung selama delapan kali tatap muka, antara dose atau tenaga pengajar dengan mahasiswa yang ikut dalam kegiatan pemantapan ini," kata Dr Adibin Djafar yang juga Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Palu.

Dia mengemukakan, dengan keterlibatan aktiv para dosen diharapkan dapat menunjang tujuan dari proses pemantapan itu yang bermuara pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam berbahasa Arab dan Inggris.

Terkait hal itu Rektor IAIN Palu Prof Dr KH Sagaf S Pettalongi MPd mendukung penuh langkah UPT Bahasa untuk membentuk keterampilan dan kemahiran mahasiswa berbahasa asing Arab dan Inggris sebagai satu proses pembentukan kecerdasan mahasiswa.

Karena itu, Prof Sagaf menekankan kepada para dosen yang terlibat dalam program tersebut agar serius dalam memberikan pengajaran dan pembimbingan terhadap 100 mahasiswa tersebut.

"Saya ingin membangun komitmen dengan para dosen yang terlibat dalam kegiatan ini. Hal ini agar target yang dinginkan bisa benar-benar tercapai, tidak hanya sekedar ceremonial," sebut Prof Sagaf Pettalongi.

Guru Besar yang ahli dalam bidang managemen pendidikan ini menekankan kepada panitia atau pihak UPT Bahasa untuk kembali mengevaluasi dosen-dosen yang terlibat dalam kegiatan itu, disertai dengan perjanjian hitam diatas putih.

Ia menyebut, bila ada yang kurang serius, atau lebih mementingkan kegiatan dan urusan diluar kampus, maka sebaiknya tidak dilibatkan dalam kegiatan pemantapan itu. Karena, akan berdampak pada target pemantapan berbahasa asing Arab dan Inggris.

Prof Sagaf Pettalongi juga meminta kepada mahasiswa yang tercatat sebagai peserta agar serius mengikuti proses pembinaan dan pemantapan itu, karena akan menjadi modal bagi mahasiswa dalam menghadapi era persaingan, sekaligus sebagai daya saing yang menjadi bagian tak terpisahkan dari efek bonus demografi.

"Tantangan yang dihadapi dalam bonus demografi, atau era milenial sangat kompleks dengan persaingan kerja yang sangat tinggi. Karena itu, mahasiswa sebagai bagian dari bonus demografi perlu memiliki kemapanan dan kemahiran dalam menguasai bahasa asing Inggris dan Arab," kata Prof Sagaf.

Indonesian