REKTOR IAIN : PIONIR TEBARKAN KERAGAMAN

 

PALU –  Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu Prof. H. Zainal Abidin menyatakan, Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) VII di Palu, tidak hanya menjadi kegiatan bagi perguruan tinggi keagamaan islam.

Melainkan, kegiatan tersebut juga milik perguruan tinggi atau lembaga pendidikan non muslim.

Olehnya sebut dia, dalam PIONIR VII di Palu panitia dan IAIN melibatkan komponen lainnya, yang berasal dari kalangan non muslim.

Hal itu diungkap Rektor IAIN Palu Prof. H. Zainal Abidin, saat menyampaikan sambutan pada ramah tamah panitia bersama juri dan wasit serta pelatih, di Auditorium IAIN Palu Kamis (14/5).

Dikatakannya, PIONIR  sebagai ajang pembinaan bagi mahasiswa/i PTK, baik negeri maupun swasta pada bidang keilmuan, olahraga, seni dan riset. Mahasiswa tidak hanya diharapkan berprestasi dalam akademik, tetapi juga berprestasi di bidang olahraga dan seni.

Melainkan, mahasiswa juga harus memantapkan emosional dalam pergaulan, dari kalangan dan latar belakang keagamaan dan budaya yang berbeda.

“Untuk menebarkan keragaman demi menciptakan budaya yang damai dapat dimulai dari bangku perkuliahan, kompetisi  ilmiah, perlombaan olahraga dan seni.  Ini yang menjadi salah satu esensi pesan yang ingin disampaikan melalui kegiatan Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni dan Riset (PIONIR) VII ,” Ungkap Rektor IAIN Palu Prof. Zainal Abidin.

Terkait itu, Ketua Panitia PIONIR VII Muhtadin Dg Mustafa mengatakan, PIONIR VII akan berlangsung selama 7 hari mulai dari tanggal 18-24 Mei 2015.

Kegiatan tersebut sebut dia, dirangkaikan dengan karnaval nusantara dari 34 provinsi , IAIN Ekspo, dengan menyediakan stand pameran guna memperkenalkan produk budaya lokal Sulawesi Tengah. Lebih jauh lagi, pembukaan PIONIR VII akan mempersembahkan pertunjukan drumband dari sekolah non muslim di Kota Palu.

PIONIR VII yang mengusung motto “sportif dalam prestasi, damai dalam keragaman” menjabarkan nilai sportifitas yakni semua prestasi dapat diraih dalam nilai-nilai sportivitas, kejujuran, dan jauh dari kecurangan. 

“Sementara damai dalam keragaman diartikan dengan adanya kedamaian, saling menghormati dan saling menghargai antar sesama, meski berbeda agama, suku dan ras,” ujarnya. (AMAT).

Indonesian