Anggaran bidikmisi IAIN Palu Rp5,596 miliar

Anggaran Bidikmisi pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah, berjumlah Rp5,596 miliar yang digunakan untuk alokasi beasiswa kepada masyarakat/generasi mudah kurang mampu (ekonomi menengah kebawah) namun berprestasi agar dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

Kepala Bagian Akademik IAIN Palu, H Abdul Wahab, di Palu, Sabtu, mengemukakan, anggaran dengan nilai tersebut merupakan akumulasi keseluruhan anggaran bidikmisi yang dikelola IAIN Palu sejak tahun 2015 hingga tahun 2019.

"Iya, nilai aggaran bidikmisi setiap tahun mulai 2015 selalu mengalami perubahan. Namun, orientasinya untuk membantu masyarakat kurang mampu namun berprestasi mengenyam pendidikan perguruan tinggi," sebut Abdul Wahab.

Tahun 2015, urai dia, kuota penerima bidikmisi IAIN Palu 100 peserta, 2016 115 peserta, 2017 114 peserta, 2018 120 peserta. Dengan demikian jumlah total penerima bidikmisi IAIN Palu sejak tahun 2015 hingga 2018 sebanyak 449 mahasiswa/mahasiswi.

Setiap mahasiswa/penerima bidikmisi mendapat bantuan anggaran senilai Rp 6,6 Juta/smester, untuk membantu masyarakat/generasi muda mengenyam pendidikan perguruan tinggi.

“Total anggaran bantuan bidikmisi sejak 2015 sampai dengan 2018 yang kurang lebih sekitar Rp4,906 miliar,” sebut Wahab.

Tahun 2019, IAIN Palu membiayai 80 mahasiswa ekonomi menengah kebawah dengan alokasi dana bidikmisi, dengan anggaran kurang lebih Rp528 Juta.

Saat ini, sebut dia, sedang berlangsung kegiatan pembinaan dan peningkatan keterampilan, bagi peserta bidikmisi tahun 2016. Peserta bidikmisi dilatih keterampilan menggunakan tekhnologi, baca tulis alquran, berbahasa asing Inggris dan Arab, serta keterampilan menulis karya ilmiah, serta kiat-kiat menjadi wirausaha.

Terkait hal itu, Rektor IAIN Palu Prof Dr H Sagaf S Pettalongi MPd menekankan kepada mahasiswa untuk memanfaatkan bantuan bidikmisi dengan baik dan maksimal, sesuai dengan peruntukannya.

"Mahasiswa yang tercatat sebagai penerima bidikmisi, harus bersyukur. Bentuk dari kesyukuran itu ialah memanfaatkan bantuan tersebut sesuai dengan peruntukannya," kata Prof Sagaf Pettalongi.

Bidikmisi merupakan program nasional yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk membantu masyarakat ekonomi menengah ke bawah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi secara cuma-cuma.

Karena itu, ia meminta dana itu dimanfaatkan untuk kepentingan positif yang berkaitan dengan tuntutan dan kebutuhan akademik, seperti membeli buku dan membayar SPP.

"Jangan digunakan untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan kebutuhan akademik, seperti membeli handphone dan sebagainya. Memang membeli handphone menjadi satu hal yang penting, tetapi bila setiap tahun peserta bidikmisi mengganti handphone, dan anggaran pembeliannya berasal dari dana bidikmisi, maka itu tidak sejalan dengan kebutuhan akademik," ujar dia.

إندونيسية