IAIN motivasi mahasiswa bangun budaya menulis dan membaca

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah, memotivasi mahasiswa semua tingkatan semester dan jurusan untuk membangunn budaya membaca dan menulis, demi menunjang upaya perguruan tinggi tersebut dalam percepatan pencapaian mutu akademik.

"Mahasiswa IAIN Palu harus memiliki kemampuan membaca dan menulis. Karena itu, budaya membaca dan menulis harus dibangun, agar mahasiswa terbiasa," ucap Rektor IAIN Palu Prof Dr KH Sagaf S Pettalongi MPd, di Palu, Kamis.

Upaya membangun budaya membaca dan menulis di tingkat mahasiswa, di awali workshop pembudayaan mutu literasi bagi mahasiswa IAIN Palu yang digelar oleh UPT Perpustakaan perguruan tinggi tersebut, kamis (24/10) menggandeng Perpustakaan Daerah Sulteng, diikuti ratusan mahasiswa.

Prof Sagaf yang merupakan Guru Besar Managemen Pendidikan menuturkan, literasi membangun budaya membaca dan menulis menjadi satu metode meningkatkan mutu dan daya saing mahasiswa IAIN Palu.

Karena, menjadi salah satu penekanan atau indokator kompotensi khususnya pada aspek kognitif, yang berkaitan langsung dengan kecakapan berbahasa, membaca dan menulis. Olehnya, menurut dia, penting mahasiswa memiliki kecakapan dan kemampuan berbahasa, menulis dan membaca.

Hal itu sejalan dengan tuntutan pembelajaran saat ini yang diterapkan oleh pemerintah, dimana fokus pembelajaran tidak hanya menjadikan guru atau dosen sebagai fokus utama. Tetapim peserta didik atau mahasiswa-lah yang menjadi pusat/sasaran dari target pembelajaran.

"Apalagi di tingkat perguruan tinggi. Mahasiswa harus lebih bisa berbahasa, tidak hanya bahasa Indonesia tetapi harus berbahasa asing Inggris dan Arab, serta mampu menulis," ucap Prof Sagaf.

Tuntutan itu yang dihadapi dengan upaya membangun budaya menulis dan membaca, sejalan dengan tri-darma perguruan tinggi meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Selain itu, Prof Sagaf menegaskan, membaca dan menulis secara Islam merupakan satu perintah yang harus dilaksanakan. Hal ini merujuk pada Firman Allah Surah Al-Alaq ayat 1 - 5.

Saat itu, menurut dia, budaya membaca mulai menurun seiring berkembang pesatnya digitalisasi di era modern. Padahal, perkembangan digitalisasi, mestinya membuat masyarakat atau mahasiswa untuk lebih cenderung meningkatkan minat baca dan menulis.

"Budaya membaca masih kurang. Olehnya, perlu mendorong penggunaan elektronik dan digital ke ranah posotif seperti membaca dan menulis, sehingga budaya membaca terbangun," ujarnya.

Hal ini menjadi tantangan, yang perlu dihadapi secara serius. Padahal, buku menjadi salah satu sarana pendongkrak utama pembentukan kecerdasan intelektual, dan dapat membantu pembentukan kecerdasan spiritual dan etika.

"Dengan perbanyak membaca, mahasiswa dapat meraih cita-citanya. Problem saat ini, karena kurangnya minat baca. Akibatnya, terjadinya perdebatan-perdebatan yang tidak pada substansi," sebut Prof Sagaf.

Ia menambahkan, perdebatan yang terjadi masyarakat menyangkut keagamaan, sehingga berpotensi pada terjadinya konflik, salah satu sebabnya karena minimnya pengetahuan, yang merupakan dampak dari minimnya minat baca.

إندونيسية