IAIN Palu hadirkan Yudi Latief bicara tentang moderasi Islam

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah menghadirkan cendekiawan muda Yudi Latief untuk berbicara tentang moderasi Islam, di Palu, Sabtu.

Yudi Latief dihadirkan sebagai narasumber seminar nasional pendidikan yang digelar oleh Fakultas Tarbiyah dengan tema "peluang dan tantangan pendidikan berwawasan moderasi Islam di era milenial,". 

"Seminar hari ini untuk menegaskan moderasi Islam. Bahwa Islam adalah agama yang bercirikan moderasi," kata Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Palu, Dr Muhammad Idhan, Sabtu.

Idhan mengatakan, penegasan terhadap moderasi Islam penting untuk membangun kerukunan dan perdamaian. Sekaligus menepis anggapan negatif terhadap Islam.

"Hal ini berangkat dari fenomena yang terjadi di negara kita, yaitu adanya gerakan-gerakan ekstrem," katanya.

Islam menghendeki untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. Karena itu, sebut Idhan, hal ini butuhkan kecerdasan, butuh pengetahuan. Tanpa pengetahuan, tidak akan dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Sementara Yudi Latief mengatakan, Islam dan kebangsaan atau nasionalisme satu kesatuan yang beriringan, atau keislaman dan kebangsaan ditarik dalam satu nafas.

Yudi Latief mengutarakan, Indonesia sebagai negara dengan berbagai suku dan etnis serta agama, sulit dibayangkan dapat dipersatukan bila tapa peran agama.

Karena itu, ujar dia, bila interaksi atau hubungan intra agama dapat dirukunkan. Maka sudah pasti, kerukunan nasional dapat tercapai.

Olehnya, ekpresi agama tidak boleh dihabisi, karena Indonesia dapat maju dengan peran agama yang maksimal.

"Tidak ada kemajuan negara, tanpa ada militansi agama," sebut dia.

Jadi, militansi agama sangat diperlukan utamanya militansi agama dalam hal produktif dan baik. Bukan untuk saling menghabisi antarsatu dengan yang lain.

Disinlah, urai dia, pentingnya peran pendidikan dalam memaksimalkan militansi agama ke hal-hal yang produktif dan positif.

Salah satu cara untuk membangun militansi agama yang produktif, yaitu membentuk cara pandang yang luas terhadap penganut agama. 

"Kalau kita ingin moderat, maka harus memiliki cara pandang yang luas. Dengan itu kita mampu menempatkan diri kita," ujar Yudi Latief.

Hal itu karena, sebut dia, manusia yang radikal dikarenakan pemahaman dan berpikiran sempit.

إندونيسية